KENAKALAN REMAJA
1.
Pengertian Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa.
Definisi kenakalan remaja Menurut para ahli :
- Paul Moedikdo,SH, “kenakalan Remaja” adalah Semua
perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak
merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti
mencuri, menganiaya dan sebagainya. Semua perbuatan penyelewengan dari
norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat. Semua
perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
- Kartono,
ilmuwan sosiologi “Kenakalan Remaja” atau
dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis
sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.
Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
- Santrock
“Kenakalan remaja” merupakan
kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara
sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Dengan sedikit pengertian kenalan
remaja diatas membuat kita akan lebih mengerti akan sikap dan perilaku remaja
kita apakah baik baik saja ataukah sudah mengarah pada suatu kenakalan remaja.
2.
Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja.
Faktor-faktor
penyebab kenakalan remaja adalah sebagai berikut :
v Reaksi frustasi diri.
v Gangguan berpikir dan
intelegensia pada diri remaja.
v Kurangnya kasih sayang orang tua/keluarga.
v Kurangnya pengawasan dari orang
tua.
v Dampak negatif dari perkembangan
teknologi modern.
v Dasar-dasar agama yang kurang.
v Tidak adanya media penyalur
bakat/hobi.
v Masalah yang dipendam.
v Keluarga broken home.
v Pengaruh kawan sepermainan.
Perilaku
“Nakal” remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal)
maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
1. Krisis
identitas, Perubahan biologis dan sosiologis
pada diri remaja memungkinkan terjadi dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan
akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal
mencapai masa intregasi kedua.
2. Kontrol
diri yang lemah, Remaja yang tidak bisa
mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak
dapat diterima akan terseret pada perilaku “nakal”. Begitupun bagi
mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak
bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan
pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1.
Keluarga Perceraian
orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan
antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan
yang salah dikeluarga seperti
terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan
terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2.
Teman sebaya yang kurang baik.
3.
Komunitas/lingkungan tempat
tinggal yang kurang baik.
Kenakalan remaja dapat
ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:
1.
PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
Di kalangan remaja, memiliki
banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak
kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat
memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di
kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak
orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan
hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua
juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan
tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau
tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya.
Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang
tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai
modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi
frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa
kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh
kawan ini memang cukup besar. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai
segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun
akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan
selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan
sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian
seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja
hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya
bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar.
Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak
menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang
akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul
yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan
sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab
ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian
yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan
tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak
karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta
tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu
memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu,
berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
Dalam Digha Nikaya III, 188,
Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang
memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang
dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada
dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya
dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, dalam Digha Nikaya
III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah
teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak
bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.
2.
PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobi
tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih
jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak.
Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya,
maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai
dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh
dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.
3.
PENGGUNAAN WAKTU LUANG
Kegiatan di masa remaja sering
hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di
rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa
kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi
waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan
kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia
melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali
perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini
selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk
menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari
orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering
menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang
sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri,
merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan
iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena
dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya
apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan
dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan
hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya.
Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua
hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng
negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun
lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi
keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada
kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya
dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua
dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga
beladiri.
Mengisi waktu luang selain
diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut
memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan
sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja
saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja,
selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih
sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan
kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini
hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat
berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan
berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, dan lain
sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara
dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di
ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak
kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola
pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana
rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan
banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun
pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat
bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain
sebagainya.
4.
UANG SAKU
Orangtua hendaknya memberikan
teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan
kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang.
Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga
tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan
uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang
diajarkan oleh Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung
sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir,
melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan
semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja
memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan
dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak
bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:
a. Anak menjadi boros
b. Anak tidak menghargai uang, dan
c. Anak malas belajar, sebab mereka
pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.
5.
PERILAKU SEKSUAL
Pada saat ini, kebebasan bergaul
sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat
bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum,
para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya.
Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi
mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di
kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian
pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan
pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja
yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak
hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya
ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita,
sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan
pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus
berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap
remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang
antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat
pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar
mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran
dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi
lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak
salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang
bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam
pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua
tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya
diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan.
Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga
untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi
dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak.
Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan
sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada
orangtua.
Dalam menghadapi masalah
pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan
bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para
remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta
segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya
memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan
kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan
pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para
remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila
Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk
menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan
mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih
mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas
tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh
dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh
dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
1. Kurangnya sosialisasi dari orang tua ke anak mengenai nilai-nilai
moral dan sosial.
2. Contoh perilaku yang ditampilkan
orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
3. Kurangnya pengawasan terhadap
anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan
lainnya).
4. Kurangnya disiplin yang diterapkan orang tua pada anak.
5. Rendahnya kualitas hubungan orang tua dengan anak.
6. Tingginya konflik dan perilaku
agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
7. Kemiskinan dan kekerasan dalam
lingkungan keluarga.
8. Anak tinggal jauh dari orangtua
dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
9. Perbedaan budaya tempat tinggal
anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru, adanya saudara kandung atau tiri
yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.
3.
Jenis-jenis Kenakalan Remaja
Jenis-jenis
kenakalan remaja diantaranya :
v Membolos sekolah.
v Kebut-kebutan di jalanan.
v Penyalahgunaan narkotika.
v Perilaku seksual pranikah.
v Perkelahian antar pelajar.
v Seks
bebas
v Tawuran
antara pelajar
4.
Cara Mencegah atau Mengatasi Kenakalan Remaja
Cara
mencegah atau mengatasi kenakalan remaja sebagai berikut :
v Orang tua harus selalu memberikan
dan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat
curhat yang nyaman sehingga masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
v Perlunya ditanamkan dasar agama
yang kuat pada anak-anak sejak dini.
v Pengawasan orang tua yang
intensif terhadap anak. Termasuk di sini media komunikasi seperti televisi,
radio, akses internet, handphone, dll.
v Perlunya materi pelajaran
bimbingan konseling di sekolah.
v Sebagai orang tua sebisa mungkin
dukunglah hobi/bakat anak-anaknya yang bernilai positif. Jika ada dana, jangan
ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka, agar anak remaja kita dapat
terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.
v Kegagalan
mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi
dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin
figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga
mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
v Adanya
motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
v Kemauan
orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang
harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
v Remaja
pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan
dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
v Remaja
membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman
sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
5.
Batasan Kenakalan Remaja.
Kenakalan remaja merupakan
tindakan melanggar peraturan atau hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia
18 tahun. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah
mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui
masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia
berada pada masa transis.
Dalam batasan hukum, menurut
Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The Adolescence, terdapat dua
kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:
1. Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal
yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah
pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
2. Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari
rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku
seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.
Masalah kenakalan remaja mulai
mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk
anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
No comments:
Post a Comment