Wednesday, October 12, 2016

4 Hal Tak Terduga yang Ternyata Bikin IQ Jatuh

Bagi mereka yang dianugerahi dengan hasil tes IQ tergolong tinggi, tentunya ingin agar semasa hidupnya kemampuan otaknya selalu sama, yaitu melampaui kompeten. Namun jangan salah, ternyata IQ pun bisa turun, baik secara perlahan maupun seketika pada siapa pun.

Ada sejumlah hal yang bisa menurunkan IQ seseorang diantaranya :

Makanan Mengandung Lemak Jenuh

Mengonsumsi makanan yang mengandung lemak jenuh secara berlebihan bisa mempengaruhi fungsi otak yaitu melalui saraf yang fungsinya mengendalikan perasaan senang atau nyaman.

Diet Makanan Berlemak


Meski disarankan untuk tidak konsumsi makanan mengandung lemak jenuh, bukan berarti Anda harus sepenuhnya berhenti mengonsumsinya. Ini dikarenakan, diet atau pun berhenti total mengonsumsi makanan tersebut juga bisa memicu kerusakan pada otak, daya ingatan menurun dan depresi.

Melakukan Banyak Hal Sekaligus


 Otak tidak dirancang untuk memfasilitasi pikiran atau melakukan banyak hal sekaligus. Jika seseorang terus-menerus menerapkan hal ini maka fungsi kognitifnya akan menurun dan lambat laun dirinya akan merasa kesulitan untuk berpikir kreatif seperti sebelumnya. Ia cenderung akan mengembangkan pikiran dan ide dalam otak yang tergolong dangkal.

Terlalu Manja dengan Teknologi


Di era modern ini, sudah jarang orang yang mau berusaha menghafal nomor telepon seseorang atau mencari tahu informasi seputar dunia dengan membaca koran lantaran sudah ada internet untuk membantunya mencari tahu. Keseringan mengandalkan teknologi akan membuat otaknya melemah lantaran jarang digunakan atau dipacu untuk bekerja keras mengingat sesuatu. Ini akan membuat daya ingatannya turun drastis.

Cara Terbaik Mencegah Varises Pada Kaki

Salah satu masalah kesehatan yang cukup mengganggu penampilan adalah varises. Bagaimana tidak, penyakit yang bisa menyebabkan pembuluh darah vena menonjol pada permukaan kulit kaki, khususnya pada bagian betis ini bisa membuat kaki menjadi tidak lagi mulus. Bagi kaum wanita yang kadang memakai rok pendek, adanya varises tentu akan menjadi bencana karena membuat tampilan kaki mereka menjadi tidak cantik kembali.

Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises
 Lantas, bagaimana cara menghilangkan varises itu sendiri? Disini Anda akan dikenalkan dengan dua cara, yang pertama dapat dicoba dirumah atau mengikuti anjuran dari dokter. Berikut ini beberapa cara alami menghilangkan varises yang bisa Anda lakukan di rumah.

1. Kurangi Waktu Duduk ataupun Berdiri

Biasanya duduk terlalu lama memicu terjadinya ambeien, tetapi siapa sangka kalau duduk juga berpotensi menimbulkan varises. Saat posisi tubuh terlalu lama dan banyak duduk ataupun berdiri, kaki akan menopang beban tubuh bagian atas. Untuk itu, apabila Anda telah duduk lama, selingi dengan aktivitas berdiri setidaknya 30 menit.

2. Hindari Pemakaian Heels Sering-Sering

Posisi tumit yang rendah ataupun sejajar akan memaksimalkan fungsi otot pada betis untuk bekerja. Tetapi, jika tiap harinya Anda dituntut untuk mengenakan heels, alangkah baiknya melakukan peregangan kaki saat jam-jam istirahat, hitung-hitung melancarkan sirkulasi darah pada kaki.

3. Kontrol Berat Badan dan Asupan Makanan

Kegendutan ataupun obesitas dapat memberi kesempatan pada varises untuk hadir dalam tubuh Anda. Maka dari itu, selalu kontrol berat badan agar masalah ini tidak menghantui Anda. Selain itu, asupan makanan juga perlu diperhatikan, misalnya menjalani diet rendah garam untuk mencegah terjadinya pembengkakan sebagai akibat dari retensi cairan.
Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises
Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises
Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises
Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises
Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises
Sayangnya tidak ada cara yang pasti untuk mencegah varises ini agar tidak terjadi pada kaki Anda, namun Anda bisa memperkecil kemungkinannya dengan melakukan beberapa hal dalam keseharian Anda. Mencegah lebih baik daripada mengobati, karena penyembuhan varises termasuk sulit, bahkan bisa memerlukan pembedahan atau laser.

Read more at carakhasiatmanfaat.com: Cara mencegah timbulnya Varises

Saturday, March 2, 2013


SISTEM KARIR

1.      SISTEM KARIR

1.1  Pengertian Karir

Menurut Handoko (2000) karir adalah seluruh pekerjaan atau jabatan yang ditangani atau dipegang selama kehidupan kerja seseorang. Suatu karir terdiri dari urutan pengalaman atau suatu rangkaian kerja yang dipegang selama kehidupan seseorang yang memberikan kesinambungan dan ketentraman sehingga menciptakan sikap dan perilaku tertentu.

1.2  Pengembangan Karir

Pengembangan mencakup aktivitas pembelajaran yang tidak harus berkaitan dengan pekerjaan karyawan pada saat ini. Pengembangan membantu karyawan menyiapkan diri untuk posisi lain dalam perusahaan, dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berpindah dalam suatu pekerjaan yang barangkali belum ada pada saat ini. Pengembangan juga membantu karyawan mempersiapkan diri untuk merubah pekerjaan mereka pada saat ini sebagai akibat dari adanya teknologi baru, desain pekerjaan, pelanggan baru, atau pasar produk baru.

Menurut Bernardin dan Russell (1998), secara tradisional, karir telah dideskripsikan dalam berbagai pengertian. Karir telah dideskripsikan sebagai suatu sekuensi posisi yang dipegang seseorang dalam suatu pekerjaan. Karir juga dideskripsikan dalam konteks mobilitas dalam suatu organisasi.

Atas dasar uraian diatas, pengembangan karir dapat didefinisikan sebagai :

Suatu usaha formal, terorganisasi, dan terencana untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan karir individu dan tuntutan angkatan kerja organisasional.

Suatu usaha yang terus menerus secara formal dilakukan oleh organisasi yang berfokus pada pengembangan dan pengkayaan sumber daya manusia organisasi, dalam rangka memenuhi kebutuhan baik individu maupun organisasi.

KENAKALAN REMAJA
1.     Pengertian Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja (juvenile delinquency) adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau transisi masa anak-anak dan dewasa.
Definisi  kenakalan remaja Menurut para ahli :
  1. Paul Moedikdo,SH,kenakalan Remaja” adalah Semua perbuatan yang dari orang dewasa merupakan suatu kejahatan bagi anak-anak merupakan kenakalan jadi semua yang dilarang oleh hukum pidana, seperti mencuri, menganiaya dan sebagainya. Semua perbuatan penyelewengan dari norma kelompok tertentu untuk menimbulkan keonaran dalam masyarakat. Semua perbuatan yang menunjukkan kebutuhan perlindungan bagi sosial.
  2. Kartono, ilmuwan sosiologi “Kenakalan Remaja” atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
  3. Santrock Kenakalan remaja” merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
Dengan sedikit pengertian kenalan remaja diatas membuat kita akan lebih mengerti akan sikap dan perilaku remaja kita apakah baik baik saja ataukah sudah mengarah pada suatu kenakalan remaja.
2.     Faktor-faktor Penyebab Kenakalan Remaja.
Faktor-faktor penyebab kenakalan remaja adalah sebagai berikut :
v  Reaksi frustasi diri.
v  Gangguan berpikir dan intelegensia pada diri remaja.
v  Kurangnya kasih sayang orang tua/keluarga.
v  Kurangnya pengawasan dari orang tua.
v  Dampak negatif dari perkembangan teknologi modern.
v  Dasar-dasar agama yang kurang.
v  Tidak adanya media penyalur bakat/hobi.
v  Masalah yang dipendam.
v  Keluarga broken home.
v  Pengaruh kawan sepermainan.
Perilaku “Nakal” remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
1.   Krisis identitas, Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadi dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa intregasi kedua.
2.   Kontrol diri yang lemah, Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1.         Keluarga Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah dikeluarga seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2.         Teman sebaya yang kurang baik.
3.         Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:

1.     PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.
2.     PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.
3.     PENGGUNAAN WAKTU LUANG
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain sebagainya.
4.     UANG SAKU
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:
a.       Anak menjadi boros
b.      Anak tidak menghargai uang, dan
c.       Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.

5.     PERILAKU SEKSUAL
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.     

Faktor-faktor penyebab munculnya kenakalan remaja, menurut Kumpfer dan Alvarado, Minggu (23/1/2011)
1.    Kurangnya sosialisasi dari orang tua ke anak mengenai nilai-nilai moral dan sosial.
2.    Contoh perilaku yang ditampilkan orangtua (modeling) di rumah terhadap perilaku dan nilai-nilai anti-sosial.
3.    Kurangnya pengawasan terhadap anak (baik aktivitas, pertemanan di sekolah ataupun di luar sekolah, dan lainnya).
4.     Kurangnya disiplin yang diterapkan orang tua pada anak.
5.    Rendahnya kualitas hubungan orang tua dengan anak.
6.    Tingginya konflik dan perilaku agresif yang terjadi dalam lingkungan keluarga.
7.    Kemiskinan dan kekerasan dalam lingkungan keluarga.
8.    Anak tinggal jauh dari orangtua dan tidak ada pengawasan dari figur otoritas lain.
9.    Perbedaan budaya tempat tinggal anak, misalnya pindah ke kota lain atau lingkungan baru, adanya saudara kandung atau tiri yang menggunakan obat-obat terlarang atau melakukan kenakalan remaja.


3.     Jenis-jenis Kenakalan Remaja
Jenis-jenis kenakalan remaja diantaranya :
v  Membolos sekolah.
v  Kebut-kebutan di jalanan.
v  Penyalahgunaan narkotika.
v  Perilaku seksual pranikah.
v  Perkelahian antar pelajar.
v  Seks bebas
v  Tawuran antara pelajar
4.     Cara  Mencegah atau  Mengatasi Kenakalan Remaja
Cara mencegah atau mengatasi kenakalan remaja sebagai berikut :
v  Orang tua harus selalu memberikan dan menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya kepada anaknya. Jadilah tempat curhat yang nyaman sehingga masalah anak-anaknya segera dapat terselesaikan.
v  Perlunya ditanamkan dasar agama yang kuat pada anak-anak sejak dini.
v  Pengawasan orang tua yang intensif terhadap anak. Termasuk di sini media komunikasi seperti televisi, radio, akses internet, handphone, dll.
v  Perlunya materi pelajaran bimbingan konseling di sekolah.
v  Sebagai orang tua sebisa mungkin dukunglah hobi/bakat anak-anaknya yang bernilai positif. Jika ada dana, jangan ragu-ragu untuk memfasilitasi hobi mereka, agar anak remaja kita dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan negatif.
v  Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
v  Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
v  Kemauan orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
v  Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
v  Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
5.     Batasan Kenakalan Remaja.
Kenakalan remaja merupakan tindakan melanggar peraturan atau hukum yang dilakukan oleh anak di bawah usia 18 tahun. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transis.
Dalam batasan hukum, menurut Philip Rice dan Gale Dolgin, penulis buku The Adolescence, terdapat dua kategori pelanggaran yang dilakukan remaja, yaitu:
1.      Pelanggaran indeks, yaitu munculnya tindak kriminal yang dilakukan oleh anak remaja. Perilaku yang termasuk di antaranya adalah pencurian, penyerangan, perkosaan, dan pembunuhan.
2.      Pelanggaran status, di antaranya adalah kabur dari rumah, membolos sekolah, minum minuman beralkohol di bawah umur, perilaku seksual, dan perilaku yang tidak mengikuti peraturan sekolah atau orang tua.
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.


STRUKTUR ORGANISASI


A.     PENGERTIAN

  • Struktur suatu Organisasi adalahstruktur yang menggambarkan bagaimana organisasi itu mengatur dirinya sendiri, bagaimana mengatur hubungan antar orang dan antar kelompok.
  • Struktur Organisasi adalah suatu keputusan yang diambil oleh organisasi itu sendiri berdasakan situasi, kondisi dan kebutuhan organisasi.
  • Struktur suatu Organisasi ada kaitannya dengan tujuan, sebab struktur organisasi itu adalah cara organisasi itu mengatur dirinya untuk bisa mencapai tujuan yang ingin dicapainya.
  • Struktur Organisasi adalah unik untuk setiap organisasi.

Struktur organisasi juga merupakan pola tentang hubungan antara berbagai komponen dan bagian organisasi.

1. Organisasi formal struktur direncanakan danmerupakan usaha sengaja untuk menetapkan pola hubungan antara berbagaikomponen, sehingga dapat mencapai sasaran secara efektif.
2.    Organisasi informal, struktur organisasi adalah aspek sistem yang tidakdirencanakan dan timbul secara spontan akibat interaksi peserta.

Struktur organisasi-organisasi memberikan kerangka yang menghubungkan wewenang karena struktur merupakan penetapan dan penghubung antar posisi para anggota organisasi.Jika seseorang memiliki suatu wewenang, maka dia harus dapat mempertanggungjawabkan wewenangnya tersebut.

Pada umumnya orang akan menganggap struktur sama dengan desain organisasi. Sesungguhnya desain organisasi merupakan proses perkembangan hubungan dan penciptaan struktur untuk mencapai tujuan organisasi. Jadi struktur merupakan hasil dari proses desain. Proses desain merupakan suatu kegiatan yangbersifat kontinu dan dirancang oleh manajer. Apapun bentuk atau hasil dari prosesdesain tersebut, para perancang desain organisasi harus merancang sebuah organisasi yang dapat membuat organisasi tersebut tetap bertahan hidup. Selain itu pemilihan desain organisasi tersebut akan menentukan besar kecilnya organisasi.
Setiap ukuran organisasi akan memberikan keuntungan masing-masing, namun diharapkan tercapainya tujuan organisasi dan juga eksistensi dari organisasi.

1